Hercules and I
Baru saja hujan deras berlalu, dan tidur siangku terusik oleh sekelebat ide yang memberontak di kepala..yang tak mau kompromi dengan nyamannya tidur siang di kala hujan...dan aku pun bangun..beranjak, menyalakan PC, membuat segelas teh panas, dan menulis..
Bukan ide tentang apa-apa sih..hanya tiba-tiba teringat sebuah kota tempat tinggalku sejak berumur 18 tahun sampai 25 tahun. Kota tempat aku mengadu nasib sebagai mahasiswa selama 7 tahun, s1 sampai s2. Ya dimana lagi kalau bukan Yogyakarta a.k.a Jogja. Tiba-tiba saja aku hanya ingin bangun dari kenyamanan napping di siang berhujan yang adem dan ingin menuliskan kenapa aku bisa sampai kesana, dan bagaimana kisahku pergi meninggalkannya...(kali-kali aja ada yang terinspirasi *narsiskuKumat*).
Yah memang blog ku ini lebih berisi kisah-kisah jadul, kisah hidupku..habisnya, aku bukan orang yang pandai bercerita secara verbal tentang perjalanan hidupku..Aku ini pendengar setia untuk kisah hidup orang lain, tetapi aku lebih suka merenungkan dan menuliskan perjalanan hidupku untuk dibaca. Oke deh kita mulai saja ya :-)
Setelah lulus dengan nilai Bahasa Jerman tertinggi untuk tingkat SMA di kota kelahiranku tahun 2001, aku memutuskan untuk pergi ke Jogja, sebuah ide yang didukung oleh keluarga. Dan memilih untuk mengambil jurusan Sastra Inggris. Ya, bahasa Inggris, bahasa yang selalu menjadi mata pelajaran favoritku dari SD. bahasa yang membuatku tertarik, penasaran, membuatku selalu mempelototi serial Little House on the Prairie, The Cosby Show dan Full House di TVRI, tidak peduli selama berjam-jam, tidak peduli omelan Bapa dan Mama tentang pengaruhnya terhadap mataku (yang bukti omelan mereka aku rasakan hingga kini, yaitu minus mataku yang tinggi hehehe).. Bahasa Inggris adalah bahasa yang membuat seorang anak perempuan kecil berumur 6 tahun yang tinggal di kota kecil di sebuah pulau yang sering dilupakan Indonesia, menghayal tentang menjadi bintang film Hollywood (hehe...bahkan sampai umur 28 tahun saya masih saja loh menghayal tentang hal ini :-P)
Dengan menumpang pesawat logistik Angkatan Udara yaitu pesawat Hercules, sekitar bulan Mei 2001, aku, Bapa, Mama dan sepupuku Rista yang saat itu tinggal bersama kami, berangkat dari Maumere dengan tujuan Pulau Jawa. Saat itu Bapa sudah bertugas 2 tahun di Maumere. Alasan naik itu, mungkin karena lebih cepat dari naik kapal laut (Bapa bilang saya harus mengejar jadwal tes masuk universitas di Jawa). Jangan membayangkan menumpang pesawat dengan nyaman dengan tempat duduk yang disediakan. Namanya juga pesawat logistik yang digunakan untuk mengirim barang, kami harus rela duduk di antara dan di atas dus-dus paket barang, atau di atas tas-tas dan kopor kami sendiri. Udara sangat panas di dalam pesawat. Aduh benar-benar seperti sedang berperang deh :-) Aku seperti seorang petugas Palang Merah yang sedang dikirim ke medan perang menggunakan pesawat tentara :-)
Dari Maumere pesawat mendarat di Makasar. Di sana mereka harus menurunkan barang, dan mengisi bahan bakar. Kalau tidak salah kami harus turun sekitar 20 menitan. "Hmm, akhirnya bisa melihat dunia luar juga selain Flores, meskipun cuman sampai bandara nya" begitu pikirku waktu itu.
Kami pun naik lagi, dan pesawat berhenti lagi di Jakarta setelah 2 jam terbang (kalau ga salah lo), tapi kami tidak turun. Setelah bebrapa menit (waktu pesawat mendarat, suhu panas dalam pesawat benar-benar menyengat), kami pun terbang lagi.
Berhenti lagiiii...kali ini di Surabaya. Aku melongokkan kepala lewat pintu pesawat yang sempat terbuka, dan sekilas melihat kota Surabaya dari kejauhan. It was exciting though, while the temperature was extremely and crazily hot!
Berhenti lagiiii...kali ini di Surabaya. Aku melongokkan kepala lewat pintu pesawat yang sempat terbuka, dan sekilas melihat kota Surabaya dari kejauhan. It was exciting though, while the temperature was extremely and crazily hot!
Tibalah kami di tujuan terakhir kami, yaitu Bandara Iswahjudi di Madiun. Ya, kami turun di sana, karena akan meminta tolong pada kenalan Bapa yang akan mengantarkan kami ke Jogja. Aku ingat banget candaan Bapa saat kami turun di Bandara Iswahjudi :"Biasanya orang Flores yang baru pertama kali ke Jawa harus menghentakan kaki di tanah sambil berkata akhirnya kuinjak juga tanah Jawa" hehee...(itulah Bapa, tukang bercanda dalam situasi apapun).
Kami dijemput dengan mobil oleh seorang Ibu yang baik hati, seorang istri pilot TNI AU (aku masih ingat banget nama suaminya, Kapten Lilik, apa kabar ya mereka sekarang, semoga sehat-sehat). Suaminya sedang bertugas, kebetulan suaminya adalah tetangga kenalan Bapa yang akan mengantar kami lewat jalan darat ke Jogja). Ibu itu masih muda sekali dan cantik, anaknya 2 orang cowok semua dan masih kecil-kecil. Setelah mampir sejenak di rumah Ibu Kapten Lilik, kami pun diantar ke rumah keluarga kenalan Bapa. Kami dijamu makan siang ala Jawa: pecel Lele, lalapan mentah, duduk lesehan :-). Untuk pertama kalinya aku makan yang namanya Pecel Lele :-)..komplit dengan lalapan mentahnya, yang tak lazim bagi lidah Flores hahaha..:-P Benar-benar first experience, sekaligus big launching makan pecel lele...di Jawa :-)
Setelah sempat mandi, kami siap-siap berangkat ke Jogja dengan kendaraan travel yang disewa untuk mengantar kami. Bapak kenalan Bapa juga ikut mengantar kami. Sepanjang jalan mereka sibuk berceloteh dengan bahasa Jawa, Sekali-sekali aku diberitahu, "Nanti pasti Mbak bisa bahasa Jawa kalau sudah lama di sini". Sepanjang jalan yang aku dengar hanya celotehan bahasa Jawa, dan lagu Jawa yang disetel dengan volume maksimum oleh sang sopir di radio tape mobil (belakangan aku tahu musiknya namanya musik Campursari, dan yang nyanyi adalah Didi Kempot, setelah 6 tahun di Jogja baru tahun 2007 aku ketemu yang namanya Didi Kempot di bandara Adi Sucipto Jogja :-))
bersambung.....
Comments
Post a Comment